Rilis Diskusi Online “Polemik Pembelajaran Jarak Jauh di Kalangan Mahasiswa UNJ”

Bahasan menarik tentang “Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)” Ada apa dengan PJJ?

Pembelajaran Jarak Jauh bukan barang baru, apalagi di dunia pendidikan. Bagi seorang pendidik media pembelajaran merupakan pilihan.

Makna pembelajaran jarak jauh

Menurut salah satu tokoh pendidikan, pembelajaran jarak jauh yaitu secara ruang kita terpisah antara guru dan murid, namun secara waktu belum tentu bisa jadi berbeda ataupun sama. Terdapat istilah sinkronus dan asinkronus. Synchrounous: guru dan siswa berada di dalam kelas, di waktu yang sama tetapi berada di tempat yang berbeda. Sedangkan Asynchronous guru dan siswa berada pada kelas yang sama tetapi dalam waktu dan tempat yang berbeda

Maka dari itu adanya media pembelajaran untuk melakukan pembelajaran jarak jauh dengan terhubung internet seperti zoom, google classroom, dan digital platform belajar lainnya.

Urgensi Pembelajaran Jarak Jauh, yaitu :

  1. Metode alternatif dalam penyelanggaraan belajar di kelas, di UNJ sudah dikampanyekan dengan metode blended learning. Dimana Pencampuran tatap nyata (tatap muka) dan tatap maya atau online. Hal tersebut menjadi salah satu pengaplikasian dari penyelenggaraan pendidikan di kampus kita itu sudah berbasis pembelajaran jarak jauh.
  2. Dilihat dari perkembangan teknologi saat ini dan di sisi lain tugas dosen di kampus beda dengan tugas guru di sekolah. Tugas dosen di kampus ada di Tri darma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian, tiga hal ini menjadi unsur tugas yang harus di kerjakan dosen. Hal tersebut juga sering terjadi apabila mahasiswa mengabarkan tentang jadwal perkuliahan ke dosen, namun beberapa jam atau menit sebelum pembelajaran dosen mengabarkan tidak hadir hingga akhirnya ada tugas online atau mencari waktu pengganti. Sebenarnya itu juga bukan salah dosen, karena para dosen punya tugas-tugas yang dadakan yang sifatnya penelitian dan pengabdian yang tidak bisa ditolak. Untuk urusan pendidikan guru atau dosen dituntut untuk punya kreatifitas merencanakan kegiatan-kegiatan lain selain pendidikan yaitu penelitian, pengabdian, ataupun tugas dari fakultas atau universitas. Jadi pembelajaran jarak jauh, online, e-learning, dan blended learning sudah dituntut untuk dikuasai oleh dosen atau guru. Oleh karena itu di UNJ sudah ada pelatihan atau pembekalan pengelolaan pembelajaran bagi para dosen seminggu sebelum lockdown bahkan jauh sebelumnya ada kejadian ini sudah dilaksanakan tentang menguasai blanded learning yang sifatnya berkala. Berarti UNJ sudah siap untuk blended learning. Presentase kesiapannya 80%-90% karena di beberapa fakultas sudah melaksanakan online learning nya masing-masing.
  3. Hal itu sudah menunjang bahwa kami sudah menyiapkan pembelajaran online tersebut. Ada 2 isu yang digagas oleh menteri pendidikan saat ini (khususnya pendidikan tinggi), yaitu kampus merdeka dan merdeka belajar. Salah satu elemen yang sangat diutamakan adalah pembelajaran online saat ini. Di UNJ memang belum 100% siap dalam sistem ini, tapi memang sudah sangat dioptimalkan perencanaan dan pemakaiannya. Salah satu kendalanya adalan pengelolaan teknologi itu yang mungkin masih belum optimal.

Di UNJ, seringkali melaksanakan pelatihan PJJ untuk dosen dengan materi yang sama dan berulang dengan alasan karakteristik cara belajar orang dewasa yang tidak bisa instan. Sehingga dapat dikatakan bahwa walaupun belum optimal, UNJ sudah berusaha untuk mempersiapkan penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh. Sampai saat ini pun belum ada sistem yang sempurna, terlepas dari upaya kampus menghindari wabah yang dihadapi. Misal saja sistem sidik jadi bagi dosen dan kehadiran bagi mahasiswa belum mendukung sistem pembelajaran jarak jauh. Sehingga secara normatif seharusnya mahasiswa tidak kaget jika nantinya UNJ menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh, karena adanya implikasi dari pelatihan yang diberikan kepada dosen secara terus menerus seharusnya sudah bisa dirasakan baik hanya lewat pemberian materi, ice breaking, atau kuis.

Dengan wabah yang dihadapi saat ini memaksa sistem yang telah dirancang namun belum matang bekerja tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga yang dirasakan elemen pembelajaran jarak jauh yang digunakan belum maksimal.

Keadaan yang membuat semua pihak baik dosen maupun mahasiwa untuk terus beradaptasi dan terus berupaya mengoptimalkan kegiatan perkuliahan jarak jauh ini. Walaupun secara sistem memang belum tersedia secara baik dan matang, kerena dosen baru mempersiapkan semuanya  H-2 sebelum sistem perkuliahan  jarak jauh akhirnya diberlakukan, sehingga untuk saat ini banyak  dosen yang hanya dapat mengandalkan digital platform yang dapat diakses secara gratis dan mudah seperti Google Classroom, Edmodo dll, dimana digital platform tersebut juga belum terintegrasi oleh kampus.  Selain permasalahan sistem yang belum dipersiapkan secara matang, kemampuan beberapa dosen dalam menggunakan platform digital juga menjadi kendala, sehingga dosen-dosen yang sudah dapat menguasai platform pembelajaran digital harus membantu dosen yang masih terkendala dalam menggunakan platform digital untuk mendukung kegiatan perkuliahan. Namun diharapkan kita dapat mengambil nilai positif dari situasi saat ini, karena pimpinan kampus berserta dosen terus berupaya agar sistem perkulihan jarak jauh ini dapat berjalan lebih baik lagi kedepan nya.

Universitas sudah merencanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh dengan sempurna namun ada beberapa hal yang menyebabkan pelaksanaannya menjadi tidak sempurna dan tidak efektif, misalnya karena ada kejadian luar biasa yang menyebabkan civitas akademika harus dirumah dan menyelanggarakan yang tidak sempurna.

Selain proses pembelajaran, proses bimbingan, sidang, dan proposal juga harus diadakan secara jarak jauh atau online. Bahkan proses wisuda harus dibatalkan pada semester ini. Menyikapi hal tersebut, kita seharusnya bersikap secara dewasa, terbuka, dan tidak mementingkan ego diri sendiri.

Lebih lengkapnya bisa dengarkan materi di bawah ini:

Pertanyaan dari Peserta dan Jawaban dari Narasumber

1. Pertanyaan dari Idham Khalid

Di tengah wabah pandemi yang memang tidak kita rencanakan, apakah koordinasi saat ini antara dosen se-UNJ terus melakukan laporan terkait kendala-kendala yang ditemukan dalam pembelajaran jarak jauh ini dan adakah langkah dari pihak UNJ untuk terus memperbaiki sistem pembelajaran jarak jauh ini yang tidak bisa di prediksi sampai kapan keberlangsungannya?

Jawaban :

Koordinasi dosen se-UNJ. Sistem birokrasi di kampus tidak begitu ribet dan rektorat memantau yang sifatnya umum. Untuk teknisnya seperti pengunaan aplikasi dan yang lain-lain dikembalikan ke masing-masing dosen. Payung aturan dan kebijakan ada yang sifatnya umum. Laporan kendala dari setiap dosen ada mengenai keluhan mahasiswa terkait tugas yang begitu berat dan mengeluarkan kebijakan baru untuk menggunakan meringankan mahasiswa misalnya memberikan materi menggunakan grup whatssapps dan diskusi via grup. Birokrasi fakultas sangat terbuka dengan masukan, jika merasa kesulitan dengan alasan yang logis maka tidak menutup kemungkinan dosen akan menerima itu.

2. Pertanyaan dari Meisya Eka Saputri

Bagaimana caranya kita sebagai mahasiswa sendiri untuk menghadapi PJJ ini selain memiliki sifat saling peka dan kedewasaan, agar mahasiswa itu sendiri tetap stay positif dan semangat untuk mengikuti PJJ ini? Karena di dalam video tersebut itu tidak ada yang salah dalam pelaksanaan ini

Jawaban:

Perspektif dosen :

Tantangan dosen dalam PJJ yaitu bagaimana memberikan materi semanarik mungkin agar bisa menarik peserta didik untuk mau memperhatikan materi minimal 15 menit. Tantangan terberat buat dosen dosen yaitu tidak bisa melihat mahasiswanya dalam mengakses materi misalnya mahasiswa bisa mengakses materi sambil rebahan, jika dalam bentuk video langsung dipercepat.

Untuk memastikan mahasiswanya dapat mengakses materi yaitu

  • Biasanya dosen memberikan latihan di akhir materi, yang mana konten tugas latihannya terdapat pada video pembelajaran
  • Cara alternatif agar mahasiswa tertarik dan full attention pada materi yaitu contoh mata kuliah kajian kurikulum yang berisi full materi, maka metode yang tepat yaitu pertama membagi tugas kelompok atau individu untuk mencari penjelasan teori sendiri terlebih dahulu. Lalu di akhir atau pertemuan selanjutnya, membuat video untuk menyamakan persepsi jadi ketika memberikan materi, mahasiswa sudah mengetahu pengetahuan awal. Memberikan makna terhadap materi mata kuliah disebut dengan discovery learning

Bagaimana agar stay postive?

Kembali lagi kepada individu mahasiswanya, apabila dosen atau pendidik yang ideal pasti mencari media pembelajaran yang sekreatif mungkin yang mampu menghilangkan kejenuhan mahasiswanya. Jika dari awal tidak ada ketertarikan dari mahasiswanya maka itu diluar kemampuan dosen.

3. Pertanyaan dari Muhammad Taufik Rochman

Tadi di jelaskan konsep PJJ “secara ruang terpisah, tapi waktu belum tentu,” Lantas kenapa PJJ justru sebagai media tugas online dengan pengumpulan berdekatan dimana pengerjaannya menguras waktu lebih banyak dari kuliah tatap muka. Kemudian hal ini menimbulkan kendala di mahasiswa nya juga (seperti laptop rusak, jaringan lemot). Bagaimana dosen jika menyikapi hal ini?

Jawaban:

Izin menjawab melalui perspektif saya (sebagai dosen). Beberapa hari lalu di perkuliahan saya memberi tugas dan deadline 1 jam kemudian. Saya tidak kepikiran dengan down server, traffic di web, sinyal buruk hingga akhirnya banyak yang telat dalam mengumpulkan. Pj minta keringanan dan terbuka berani menyampaikan pendapat. Saya dan mahasiswa memang telah membangun culture atau kontrak kuliah dan aturan keluarga dimana kami siap mengkritik dan siap dikritik selama kegiatan perkuliahan. Perguruan tinggi bukan tempat yang penuh dengan aturan dan harus di taati. Perguruan tinggi isinya anak dewasa awal yang sudah punya pengalaman atau entry behavior. Diskusi dua arah itu sangat mungkin, masalah yang ditanyakan insyaallah tidak akan terjadi ketika ada masukan dari mahasiswa. Dosen tidak tahu kehidupan mata kuliah lain seperti apa karena mahasiswa tidak memberi tahu keadaan tersebut. Jangan sampai dosen A memberi kan tugas dan dosen B juga tapi mahasiswa hanya ngedumel tanpa memberikan penjelasan.

Dosen yang ideal yaitu mau menerima pendapat. Jika kenyataannya tidak itu di luar kendali dari dosen yang bersangkutan.

4. Pertanyaan dari NUFAD

Bagaimana menyikapi dosen yang jarang memberikan materi ataupun jarang membimbing mahasiswanya ketika PJJ?

Jawaban:

Jika kalian aktif di organisasi ataupun punya kemampuan mengkritisi, kalian bisa menyuarakan keluhan kalian ke dosen tersebut, bisa melalui PJ yang bersangkutan, kemudian disampaikan ke dosen atau bisa langsung sampaikan ke dosen. Jika dosen tidak membimbing, kalian bisa kritisi itu. Dosen memang tidak sepenuhnya bisa memberi materi, namun seharusnya mahasiswa juga bisa lebih expert dalam pembelajaran, dosen hanya sebagai fasilitator dan memberikan rambu-rambu dalam pembelajaran.

5. Pertanyaan dari Odi 

Ideal PJJ itu seperti apa menurut ibu? Apalagi dengan sistem yg dijelaskan di video pemantik tadi bahwa sistem “masih setengah matang”

Jawaban :

Idealnya PJJ adalah ketika kita sudah menggunakan satu aplikasi atau platform yang ajeg. Jika ingin dikatakan ideal maka seluruh dosen di UNJ menggunakan platform atau aplikasi yang sudah ditentukan dan disepakati sebagai sarana yang mendukung seluruh kegiatan perkuliahan. Kalau dalam segi waktu, yang idealnya kurikulumnya sudah jelas dengan waktu pelaksanaan yang sudah ditentukan. Artinya kontrak perkuliahan pembelajaran PJJ sudah jelas, sistem pembelajarannya terbuka sehingga dosen dan mahasiswa memahami arah perkuliahan yang akan berlangsung.

6. Pertanyaan dari Anonym

Tadi disebutkan bahwa UNJ dalam kesiapan sudah menepati 80%an, indikator 80% itu sudah sampai mana bu? karena di beberapa prodi, ada beberapa dosen yang belum memahami bagaimana itu blended learning, karena di masa PJJ ini masih ada dosen yang hanya memberi penugasan, tidak dengan pemberian materi. Harusnya seperti apa?

Jawaban:

Untuk di fakultas ekonomi sendiri sering diadakan pelatihan pembelajaran berbasis tekonologi, bahkan sebenarnya pelatihan kegiatan pembelajaran berbasis online ini juga pernah diadakan oleh pihak Universitas. Sehingga karena kegiatan-kegiatan tersebut sering diadakan oleh LP3M dan juga pihak fakultas, seharusnya tinggal penerapan nya saja yang dilakukan oleh dosen dalam kegiatan pembelajaran pada mata kuliah yang diampu.

7. Pertanyaan dari Gita Damayanti

Tadi dijelaskan PJJ adalah metode alternatif, dosen bekerja keras untuk belajar tentang hal-hal ini. Selain itu, disini ada mahasiswa yang bekerja keras menyesuaikan diri. Tapi ada miskonsepsi tentang pemberian tugas-tugas tersebut. Pandemi corona ini belum bisa diprediksi berakhirnya kapan, lantas beberapa mata kuliah ada yang 2/3 kali pertemuan lagi UTS. Adakah persiapan dosen akan hal itu? Sistem apa yang tepat dan tidak memberatkan pihak dosen ataupun mahasiswa?

Jawaban : Karena belum ada informasi mengenai diberhentikannya sistem pembelajaran jarak jauh sedangkan sampai bulan April sampai Mei sudah memasuki masa UTS maka kemungkinan dosen-dosen UNJ sudah mempersiapkan UTS tersebut tinggal membuatnya secara online saja dan pastinya jika memakai sistem online maka kemungkinan tidak mungkin meringankan semua pihak pasti ada salah satu pihak yang merasa diberatkan. Maka dari itu kita harus bersatu dan bekerja sama dalam sistem PJJ ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *