Bedah Film “Freedom Writer”

Jumat, 26 April 2019 – Departemen Pendidikan BEM FIP UNJ telah selesai mengadakan kajian rutin sekaligus kajian untuk menyambut Hari Pendidikan Nasional yang bertempat di Gedung Daksinapati ruang 308. Kajian ini berbentuk bedah film yang berjudul Freedom Writer. Kajian ini di mulai pukul 13.40, di buka oleh MC yaitu Fathin kemudian di lanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an oleh Fajar. Setelah itu sambutan yang disampaikan oleh Norman Yusuf selaku Ketua BEM FIP UNJ 2019.

Kegiatan kajian berlanjut nonton bersama film Freedom Writer. Film dengan panjang durasi 2 jam 3 menit itu pending pada pukul 15.30 untuk Shalat Ashar dan di lanjut kembali pada pukul 15.45. Film selesai pada pukul 16.00, setelah itu kajian berlanjut untuk diskusi bersama mengenai film yang dikaitkan dengan teori multikultur.

Pembicara dalam kajian ini ialah Fajar Subhi, dari Divisi Kajian Departemen Pendidikan dan Penelitian BEM UNJ. Narasumber membuka kajian dengan salam dan memaparkan secara singkat penjelasan tentang film freedom writer. Kemudian beliau melanjutkannya dengan penjabaran kaitan film dengan pendidikan multikultur. Adapun penjelasan yang diberikan adalah sebagai berikut.

Perang antar kelompok rasial di New Port Beach, Amerika Serikat, membuat para siswa di wilayah tersebut menjadi kurang berpendidikan dengan alasan perbedaan ras. Erin Gruwell yang memiliki sikap anti rasisme dan berpendidikan yang tidak diskriminan, datang menjadi pengajar di sekolah Woodrow Wilson High School untuk kelas yang mengalami korban perkelahian antargeng rasial. Ia ingin sekali membangkitkan semangat para siswa untuk belajar dan memiliki pandangan yang baik terhadap perbedaan.

Pihak dari sekolah kurang mendukung dengan sikap dari Erin Gruwell, bahkan suami dan ayahnya. Para siswanya tidak begitu senang dengan kehadiran Erin hingga ia kesulitan untuk mengajar. Mereka sesuka hatinya untuk duduk berkelompok sesuai rasnya dan tidak memiliki etika yang baik. Erin sibuk untuk melakukan pendekatan kepada para siswanya, hingga terjadi hal yang kurang mengenakan, ia diceraikan oleh suaminya. Namun, ayahnya mendukung Erin untuk melakukan pendekatan kepada para siswanya.

Ia memberikan sebuah tes kejujuran bagi para siswanya. Ia membuat permainan, membuat garis dengan solatip merah, mereka berdiri di belakang garis. Kemudian diberi pertanyaan tentang hal yang mereka alami. Mereka diberi jurnal untuk mencatat setiap apa yang mereka pikirkan dan kejadian yang dialami, pun dengan cara menuliskannya bahkan dalam bentuk puisi. Catatan tersebut akan dibaca oleh Erin dengan cara menaruhkan jurnalnya di lemari belakang kelas.

Erin membaca catatan harian para siswanya. Ia cukup terkejut dengan tulisan mereka. Para siswanya harus berlarian untuk tetap bertahan hidup. Sejak kecil, mereka sudah terbiasa melihat dan mengalami kekerasan karena perang antar kelompok rasial. Ia ingin menyadari kepada mereka bahwa dengan pendidikan dapat mengubah kehidupan mereka menjadi lebih sadar dengan perbedaan dan toleransi.

Suatu ketika, Erin membawa para siswanya berkunjung ke Museum Toleransi. Belajar tentang toleransi dan beraneka ragam SARA. Erin ingin mendatangkan Miep Gies ke sekolah mereka. Ia adalah seorang wanita memberikan perlindungan kepada keluarga Anne Frank. Setelah memiliki uang yang cukup, mereka berhasil mendatangkan Miep Gies.

Para siswa diminta untuk menulis semua tulisan yang akan dibuatkan menjadi sebuah buku yang akan diterbitkan oleh Erin. Mereka menyebut dengan sebutan Freedom Writers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.